vulkanologi
- Gunung berapi aktif Rinjani, di Indonesia
Gunung
Rinjani adalah gunung
yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara
Barat. Memliki titik koordinat
8°24’52” S 116°27’35” E. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan
ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini
merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan
pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional
Gunung Rinjani yang memiliki
luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi
76.000 ha ke arah barat dan timur.
Gunung
Rinjani dengan titik tertinggi 3.726 m dpl, mendominasi sebagian besar
pemandangan Pulau Lombok bagian utara.
Di sebelah barat kerucut Rinjani
terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m ×
4.800 m, memanjang kearah timur dan barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas
11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini
membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di
Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk
memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.
Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru
(atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m
dengan ketinggian 2.296 - 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir meletus pada
tanggal 25 Oktober 2015 dan 3 November 2015[2], setelah sebelumnya tercatat meletus
Mei 2009 dan pada tahun 2004.[3][4] Jika letusan tahun 2004 tidak
memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak
langsung 31 orang, karena banjir bandang pada Kokok
(Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak.[5] Sebelumnya, Gunung Barujari
pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan
1994.
Secara
stratigrafi, Gunung Rinjani dialasi oleh batuan sedimen klastik Neogen
(termasuk batu gamping), dan setempat oleh batuan gunungapi Oligo-Miosen.
Gunungapi Kuarter itu sendiri sebagian besar menghasilkan piroklastik, yang
dibeberapa tempat berselingan dengan lava. Litologi itu merekam sebagian
peletusan yang diketahui dalam sejarah. Sejak tahun 1847 telah terjadi 7 kali
peletusan, dengan jangka istirahat terpendek 1 tahun dan terpanjang 37 tahun.
Seperti pada gunungapi lainnya, Koesoemadinata
(1979) menyebutkan bahwa aktivitas kegunungapian Rinjani pasca pembentukan
kaldera adalah pembangunan kembali. Kegiatannya berupa efusiva yang
menghasilkan lava dan eksplosiva yang membentuk endapan bahan-lepas
(piroklastik). Lava umumnya berwarna hitam, dan ketika meleler tampak seperti
berbusa. Peletusan pasca pembentukan kaldera relatif lemah, dan lava yang
dikeluarkan oleh kerucut G. Barujari dan G. Rombongan relatif lebih basa
dibanding lava gunungapi lainnya di Indonesia. Kemungkinan terjadinya awan
panas ketika letusan memuncak sangat kecil. Bahan letusan umumnya diendapkan di
bagian dalam kaldera saja.
Aliran lava, lahar letusan, lahar hujan, dan
awan panas guguran berpeluang mengarah ke Kokok Putih hingga Batusantek. Awan
panas guguran dapat terjadi di sepanjang leleran lava baru yang masih bergerak,
meskipun kemungkinannya kecil.
2. Gunung berapi aktif huaynaputina, didunia
2. Gunung berapi aktif huaynaputina, didunia
Huaynaputina (Quechua: Waynaputina, "Gunung
berapi baru") adalah sebuah stratovolcano yang terletak di Peru selatan.
Gunung berapi ini tidak memiliki profil gunung yang diidentifikasi, tetapi
memiliki bentuk besar kawah gunung berapi. Pada tanggal 19 Februari 1600,
gunung ini meletus dan mendapat skala 6 dalam Volcanic
Explosivity Index. Letusan gunung ini merupakan letusan terbesar
di Amerika Selatan.
Ketika Huaynaputina meletus, aliran piroklastik bergerak
13 km ke timur dan tenggara, dan lahar,
lumpur vulkanik menghancurkan beberapa desa dan mencapai pantai samudera Pasifik yang berjarak
120 km. Abu letusan gunung ini dilaporkan melesat sejauh 250–500 km
ke segala arah. Gunung huaynaputina memiliki kertinggian 4.850 meter.
Letusan gunung berapi ini menyuntikkan sejumlah
besar sulfur ke atmosfer. Sulfur bereaksi dengan air di udara untuk membentuk
tetesan asam sulfat, yang mencegah sinar matahari mencapai permukaan.
Berkurangnya sinar matahari mendinginkan permukaan selama sekitar satu tahun.
Peneliti menceritakan letusan gunung
Huaynaputina memuntahkan 12 km kubik abu vulkanik di
langit dengan kekuatan tinggi. Bebatuan dan abu terbang di angkasa dan mulai
jatuh ke Bumi dalam keadaan panas. Dengan mudah, material tersebut membunuh
warga yang berada di sekitar.
Gunung Huaynaputina memuntahkan lumpur vulkanik yang
mengancurkan sejumlah desa yang berada di sekitar gunung. Asap dan debu vulkanik menyebar di udara hingga ke beberapa negara. Akibatnya, suhu udara
sampai turun, mengakibatkan terjadinya musim dingin yang sangat pada tahun 1600
sampai 1602. Adalah Rusia yang menderita kerugian paling parah dimana sebanyak 2
juta populasi meninggal dunia.


Komentar
Posting Komentar