Geologi Panas Bumi

Potensi dan Pemanfaatan Panas Bumi secara langsung di daerah Sulawesi Utara

Energi panas bumi atau energi geothermal adalah sumber energi yang relatif ramah

lingkungan karena berasal dari panas dalam bumi. Air yang dipompa ke dalam bumi oleh

manusia atau sebab-sebab alami (hujan) dikumpulkan ke permukaan bumi dalam bentuk uap,yang bisa digunakan untuk menggerakkan turbin-turbin untuk memproduksi listrik. Biaya

eksplorasi dan juga biaya modal pembangkit listrik geotermal lebih tinggi dibandinkan

pembangkit-pembangkit listrik lain yang menggunakan bahan bakar fosil. Namun, setelah mulai beroperasi, biaya produksinya rendah dibandingkan dengan pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar fosil.


Indonesia menjadi negara dengan urutan ketiga terbanyak menggunakan energi

geothermal sebagai penghasil listrik di seluruh dunia setelah Meksiko. Indonesia memiliki

potensi sebesar 40% sumber daya panas bumi karena mengandung cadangan panas bumi

terbesar di dunia yang letaknya di permukaan negara Indonesia. Namun Indonesia hanya

menggunakan cadangan tersebut sebesar 5% karena kebanyakan dari sumber tersebut terletak di hutan dan kawasan konservasi yang dilindungi. Sejak kegiatan panas bumi digolongkan sebagai aktivitas pertambangan, perusahaan dilarang untuk melakukan eksplorasi atau pengeboran di daerah tersebut, sedangkan peraturan yang baru sekarang memisahkan kegiatan eksplorasi panas bumi dengan pertambangan yang mengambil keuntungan dari cadangan negara besar.


Di Indonesia pemanfaatan energi panas bumi yang sudah sementara beroperasi

tersebar di beberapa pulau seperti, Sumatera Utara, Jawa dan Sulawesi Utara. Pembangkit

listik tenaga geothermal menghasilkan listrik sekitar 90%, dibandingkan 65-75 persen

pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Menurut kajian UGM, Indonesia memiliki potensi

panas bumi yang tersebar pada 250 lokasi, dengan total potensi sekitar 29.000 megawatt

(MW). Di Sulawesi Utara sendiri, terdapat 3 lokasi panas bumi, di antaranya, Lahendong

yang merupakan lapangan panas bumi pertama di kawasan Indonesia Timur yang

memproduksi listrik. Kemudian, dua lokasi lainnya yaitu di Tompaso dan Kotamobagu. Di

Lahendong, hingga Januari 2010, masih berdasarkan kajian UGM, setidaknya 27 sumur telah dibor sampai kedalaman berkisar 1.500 – 2.500 m. Saat ini, lapangan panas bumi Lahendong telah memproduksi listrik sebesar 60 MW.

Walaupun 40% cadangan panas bumi yang terdapat di Indonesia, akan tetapi

pemanfaatan akan panas bumi ini masih tergolong rendah. Sedangkan pemanfaatan di

Sulawesi Utara sudah diusahakan dengan maksimal oleh gubernur. Di tahun 2015, terjadi

pemadaman listrik di beberapa lokasi besar di Sulawesi Utara sehingga merugikan

masyarakat. Ini menjadikan pelajaran penting bagi pemerintah agar lebih memanfaatkan

energi panas bumi yang ada, dengan membangun pembangkit listrik. Pemanfaatan energi panas bumi di Sulawesi Utara sebagai penopang pembangunan juga merupakan bentuk

dukungan atas kebijakan Presiden tentang kemandirian energi dan pangan.

Dari kebutuhan listrik sebesar 150 MW untuk Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo, tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong telah menyumbang 60 MW. Jumlah ini masih jauh dari potensi listrik panas bumi atau geothermal di Sulawesi Utara. Dan saat ini menjadi permasalahan yang dihadapi adalah PLTP Lahendong selama ini dibangun dengan kredit murah dari Bank Pembangunan Asia (ADB,) badan bantuan pembangunan pemerintah Jepang (JICA) dan pemerintah Prancis. Pemerintah Indonesia mengakui selama ini bergerak lambat dalam merangsang investor untuk masuk ke bisnis listrik geotermal. Hingga sekarang pemerintah belum menetapkan berapa harga yang akan dibeli dari perusahaan listrik yang menjual listrik dari tenaga panas bumi.


Inilah yang menjadi permasalahan utama Indonesia, yaitu potensi panas bumi yang ada sangat besar akan tetapi pengeksekusian belum dilakukan dengan maksimal. Banyaknya juga daerah-daerah di Indonesia yang masih menderita di dalam masalah kelistrikan di saat-saat tertentu. Seperti, di Bitung, Sulawesi Utara mengalami masalah tersebut selama 48 jam di tahun 2015 dan ini merugikan sebagian besar masyarakat hingga adanya bantuan kapal pembangkit listrik dari Turki dengan kapasitas hingga mencapai 120 MW.


Dengan begitu ini menjadi dorongan bagi seluruh masyarakat Indonesia agar ikut dalam pemanfaatan energi panas bumi. Masyarakat dapat ikut berperan langsung dalam pemanfaatan energi ini, dengan ikut dalam kegiatan konservasi sumber daya alam. Kegiatan ini bertujuan agar ekosistem alam dapat terjaga. Panas bumi juga merupakan energi bersih yang ramah lingkungan, dan dapat menunjang upaya melestarikan hutan. Dengan
memanfaatkan energi panas bumi ini kita ikut serta dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Energi panas bumi dianggap dapat menjadi solusi utama dalam masalah yang dihadapi
Indonesia saat ini. Dengan pelaksanaan dari pemerintah dengan tepat maka, masyarakat tidak perlu lagi khawatir dengan masalah kelistrikan. Apalagi di musim hujan seperti ini terjadi banyak permasalahan di beberapa pembangkit listrik lainnya yang berada di Sulawesi Utara. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dapat menjadi jalan keluar yang dibutuhkan oleh pemerintah.

Referensi:

http://www.dunia-energi.com/panas-bumi-energi- yang-paling- bersahabat-dengan- hutan-


dan-lingkungan



geothermal-di- indonesia



masyarakat-sulawesi- utara/



bumi-pertama- di-sulut/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fasies gunung api dan aplikasinya

vulkanologi